NUNUKAN – Talasa Suradi (60), menghabiskan enam bulan terakhir hidupnya di shelter Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Nunukan. Eks Pekerja Migran Indonesia (PMI) itu meninggal di kamar shelter pada Rabu (23/9/2026) malam.
Talasa ditemukan meninggal ketika petugas Pekerja Sosial (Peksos) mengantarkan makan malam. Saat pintu kamarnya diperiksa, Talasa sudah tidak bernyawa.
Kabid Rehabilitasi Sosial DSP3A Nunukan Yarius mengatakan, Talasa memiliki sejumlah penyakit dan beberapa kali menjalani perawatan di RSUD selama berada dalam penanganan shelter.
“Ketika jam makan malam, petugas mengantarkan makanan ke kamarnya. Saat itu beliau sudah meninggal,” kata Yarius, Kamis (24/9/2026).
Sebelum menjadi penghuni shelter, Talasa pernah bekerja sebagai PMI di Malaysia. Setelah dideportasi pemerintah Malaysia, ia kembali ke Nunukan bersama istrinya.
Pasangan tersebut kemudian menetap di Nunukan dan bertahan hidup dengan tinggal di rumah kos serta bekerja serabutan. Kondisi Talasa berubah setelah istrinya sakit dan meninggal dunia.
Sejak itu, Talasa hidup seorang diri. Kondisi kesehatannya juga terus menurun hingga akhirnya ditemukan terlantar dan sakit.
“Sejak istrinya meninggal, dia luntang-lantung dan sering sakit-sakitan. Kami menampung dan merawat almarhum setelah ada laporan dari masyarakat bahwa ada orang terlantar yang sedang sakit dan membutuhkan penanganan,” ujar Yarius.
Petugas kemudian membantu mengurus administrasi kependudukan Talasa, termasuk KTP Nunukan. Dokumen tersebut diperlukan agar Talasa dapat mengakses sejumlah layanan pemerintah, termasuk layanan kesehatan dan kepesertaan BPJS.
Selama sekitar enam bulan di shelter, Talasa beberapa kali keluar-masuk rumah sakit. Kebutuhan makan dan obat-obatannya juga ditangani selama menjalani perawatan.
Namun, keterbatasan anggaran membuat kebutuhan penghuni shelter tidak seluruhnya dapat ditopang dari anggaran dinas. Petugas sosial bahkan beberapa kali mengeluarkan uang secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan Talasa.
“Dinas Sosial ini benar-benar sosial. Untuk urusan makan dan perawatan, banyak yang kami lakukan secara swadaya karena anggaran kami minim,” kata Yarius.
Talasa bukan satu-satunya warga terlantar yang berada dalam penanganan shelter. Saat ini masih terdapat lima orang lainnya yang dirawat.
Sebagian membutuhkan pendampingan karena persoalan kesehatan dan kondisi sosial.
Setelah Talasa meninggal, Peksos kembali menangani proses hingga pemakaman. Petugas memandikan, mengkafani, menggali liang lahat, hingga mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman.
Kisah Talasa berakhir setelah perjalanan panjang sebagai pekerja migran di Malaysia, kepulangan ke Nunukan, kehilangan istrinya, hingga menjalani enam bulan terakhir hidupnya dalam perawatan shelter pemerintah.
Kasus tersebut sekaligus memperlihatkan kebutuhan layanan yang harus ditanggung petugas sosial ketika warga terlantar membutuhkan perawatan dan pendampingan, sementara anggaran pelayanan masih terbatas. (ryn)

