TANJUNG SELOR – Minyak diambil dari bumi Bulungan, tetapi untuk mendapatkan BBM, sopir truk justru harus mengantre sejak subuh. Di sejumlah SPBU, barisan kendaraan mengular hingga sekitar satu kilometer.
Antrean panjang itu menjadi pemandangan yang harus dihadapi pengemudi kendaraan niaga di Tanjung Selor. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar sebelum kembali bekerja.
Irwan, salah seorang sopir truk mengatakan, dirinya sudah harus berada di antrean sejak pukul 04.00 Wita. Tidak jarang, ketika pompa BBM berhenti beroperasi, kendaraan masih mengular di belakangnya.
“Kami lelah juga harus antre. Mulai pukul 04.00 pagi kami menunggu. Kadang pompa BBM sudah tutup dan antrean masih panjang, tapi kami tetap harus bertahan dan menampung isi BBM. Kalau tidak jalan, dapur keluarga ikut berhenti mengepul,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut terasa ironis bagi masyarakat Bulungan yang selama ini dikenal memiliki sejarah panjang sebagai daerah penghasil minyak di Kalimantan Utara (Kaltata).
“Ironis sekali. Daerah kita yang menghasilkan minyak, tapi kita sendiri yang paling susah menikmatinya,” katanya.
Persoalan ini menjadi semakin kontras dengan keterangan Pertamina yang sebelumnya menyatakan terus memperkuat pasokan BBM ke Bulungan. Pada awal September 2026, Pertamina disebut telah mengirim lebih dari 200 kiloliter Pertalite dan Pertamax ke wilayah tersebut.
Namun, tambahan pasokan itu belum serta-merta menghilangkan antrean di lapangan. Bagi para sopir, persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya BBM, tetapi apakah bahan bakar tersebut bisa diperoleh tanpa menghabiskan sebagian besar waktu kerja mereka di SPBU.
Antrean panjang juga memiliki konsekuensi ekonomi. Kendaraan yang seharusnya mengangkut barang harus berhenti berjam-jam. Bagi sopir, waktu tunggu berarti waktu kerja yang hilang.
Irwan berharap, pemerintah dan pihak terkait memberikan penjelasan sekaligus solusi terhadap persoalan tersebut, terutama mengenai pola distribusi dan ketersediaan BBM bagi kendaraan niaga di Tanjung Selor.
“Bagaimana mungkin sebuah wilayah yang punya sejarah panjang sebagai daerah penghasil minyak masih harus membuat rakyatnya mengular panjang demi mendapatkan BBM,” tuturnya.
Ia meminta persoalan ketersediaan energi tidak hanya dilihat dari jumlah pasokan yang masuk, tetapi juga dari kemudahan masyarakat memperoleh BBM di lapangan.
Kondisi antrean tersebut pada akhirnya menyisakan pertanyaan yang lebih besar. Jika pasokan disebut telah diperkuat, mengapa sopir masih harus menunggu sejak subuh untuk mendapatkan BBM?
Jawaban atas pertanyaan itu penting untuk memastikan persoalan energi di Bulungan tidak berhenti pada perdebatan soal jumlah pasokan, tetapi menyentuh akar masalah distribusi dan akses BBM bagi masyarakat. (rk)

