KALTARAEKONOMINUNUKAN

Harga Rumput Laut Stabil, Krisis BBM Hambat Panen Petani

NUNUKAN – Harga rumput laut di Kabupaten Nunukan masih relatif stabil dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini memberi kepastian bagi para pembudidaya di tengah fluktuasi pasar. Namun, krisis bahan bakar minyak (BBM) yang sempat melanda wilayah perbatasan justru menjadi kendala utama yang menghambat aktivitas panen dan distribusi komoditas unggulan tersebut.

Salah seorang pelaku usaha budidaya rumput laut, Andis mengatakan, perubahan harga yang terjadi masih tergolong wajar dan tidak terlalu memengaruhi keberlangsungan usaha. Menurutnya, penurunan pendapatan petani lebih dipicu oleh pengetatan standar kadar air yang diterapkan pembeli (buyer), bukan karena anjloknya harga jual.

“Sebelumnya harga Rp34.000 per kilogram masih ditoleransi untuk kadar air 39 hingga 40 persen. Sekarang, pada harga yang sama buyer hanya menerima kadar air 37 hingga 38 persen,” ujar Andis, Jumat (7/8/2026).

Ia menjelaskan, kebijakan tersebut diberlakukan karena buyer di Surabaya dan Makassar menilai kualitas rumput laut yang diterima belum sesuai dengan kebutuhan pasar. Akibatnya, petani harus mengeringkan rumput laut lebih lama agar memenuhi standar baru, sehingga bobot hasil panen berkurang dan pendapatan ikut menurun.

Di sisi lain, kelangkaan BBM yang sempat terjadi di Nunukan juga memberikan dampak nyata terhadap aktivitas budidaya. Banyak petani terpaksa menunda panen karena kesulitan memperoleh bahan bakar untuk mengoperasikan perahu maupun menurunkan tali budidaya ke laut.

Meski demikian, para pembudidaya berharap kondisi harga rumput laut tetap stabil dan pasokan BBM kembali normal. Dengan demikian, produksi dapat berjalan lancar dan pendapatan petani tetap terjaga di tengah tingginya ketergantungan masyarakat pesisir terhadap sektor budidaya rumput laut. (ryn)

Back to top button