NUNUKAN – Produk sudah dibuat, tetapi identitasnya belum tentu ada. Sebagian pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Nunukan masih menjual produk dengan kemasan sederhana, bahkan tanpa logo sebagai penanda merek.
Kondisi itu terungkap dalam pelatihan branding dan packaging yang digelar selama dua hari, 23-24 September 2026. Dari sekitar 30 pelaku UMKM dan kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) yang mengikuti kegiatan tersebut, sekitar 90 persen merupakan pelaku usaha yang baru mulai mengembangkan produknya.
Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Nunukan, Mardiana, mengatakan persoalan dasar masih terlihat pada sebagian besar peserta.
“Sekitar 90 persen adalah kelompok-kelompok UMKM atau UP2K baru yang memang baru menciptakan produk-produk,” kata Mardiana, Senin (28/9/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut terlihat dari kemasan produk yang masih sangat sederhana. Sebagian pelaku usaha juga belum memiliki identitas yang membedakan produknya dengan produk lain.
“Packaging juga sangat sederhana. Masih packaging yang bening dan lain sebagainya. Bahkan logo pun mereka belum punya,” ujarnya.
Bagi UMKM yang ingin memperluas pasar, persoalan tersebut menjadi tantangan. Produk yang sebelumnya hanya dipasarkan kepada lingkungan sekitar perlu memiliki tampilan dan identitas yang lebih jelas ketika mulai diperkenalkan melalui media sosial maupun pasar di luar wilayah asal.
Kondisi geografis Nunukan yang terdiri atas wilayah daratan dan kepulauan juga membuat perluasan pemasaran menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, pelatihan tidak hanya diarahkan pada cara membuat kemasan lebih menarik. Peserta juga mendapat materi mengenai pembuatan logo, identitas produk hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran.
Mardiana mengatakan pelaku UMKM perlu memiliki kemampuan untuk memperkenalkan produknya, bukan hanya memproduksinya.
“Kita berharap mereka UMKM ini bisa menciptakan sebuah branding yang baik. Mulai dari bagaimana mereka menciptakan logo, mengemas produknya di media sosial dan lain sebagainya,” jelasnya.
Materi pelatihan juga mencakup penggunaan bahan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Sejumlah bahan yang berpotensi ditemukan di Nunukan diperkenalkan sebagai alternatif dalam pengembangan packaging.
Namun, pelatihan dua hari tersebut baru menjadi langkah awal. Persoalan berikutnya adalah memastikan pengetahuan yang diperoleh benar-benar diterapkan pada produk yang mereka jual.
Mardiana berharap peserta mulai memperbaiki kemasan, identitas produk dan pola pemasaran setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Harapannya, materi yang disampaikan benar-benar berdampak pada bagaimana mereka mengaplikasikannya di usahanya masing-masing,” katanya.
Dalam pelatihan, peserta juga diminta membawa laptop atau telepon seluler agar materi dapat langsung dipraktikkan. Dengan pola tersebut, peserta tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi mencoba membuat atau memperbaiki identitas produk masing-masing.
Pemanfaatan media sosial turut didorong agar produk yang selama ini hanya beredar di lingkungan sekitar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Kita berharap kegiatan selama dua hari ini bisa benar-benar maksimal diserap teman-teman UMKM,” pungkasnya. (ryn)

