Produksi Intracawood Anjlok, 1.500 Pekerja Dibayangi Ketidakpastian
TARAKAN - Penurunan permintaan pasar ekspor membuat produksi PT Intracawood Manufacturing merosot tajam. Dari kondisi normal sekitar 3.000 meter kubik plywood per bulan, kini perusahaan hanya mampu memproduksi sedikit di atas 1.000 meter kubik. Kondisi ini turut menekan arus kas perusahaan dan memunculkan ketidakpastian terhadap keberlangsungan sekitar 1.500 pekerja.
Manager HRD PT Intracawood Manufacturing, Imam Muhadi mengakui, perusahaan tengah menghadapi kesulitan keuangan akibat melemahnya permintaan dari pasar internasional. Meski pembeli masih tersedia, volume pesanan mengalami penurunan sehingga berdampak langsung terhadap aktivitas produksi.
“Kondisi perusahaan memang sedang tidak baik. Kami bergerak di sektor ekspor, sementara kondisi ekonomi global sedang bermasalah dan dampaknya juga dirasakan perusahaan. Pembeli masih ada, tetapi jumlah permintaannya berkurang,” ujar Imam saat ditemui usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Kota Tarakan, Rabu (4/11/2026).
Penurunan permintaan tersebut membuat kapasitas produksi perusahaan tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Imam menyebut, produksi normal Intracawood mencapai sekitar 3.000 meter kubik plywood setiap bulan. Namun, saat ini realisasinya hanya sedikit di atas 1.000 meter kubik.
“Kalau dalam kondisi normal, produksi kami seharusnya sekitar 3.000 meter kubik per bulan. Sekarang produksinya hanya sedikit di atas 1.000 meter kubik. Itu gambaran kondisi produksi perusahaan saat ini,” jelasnya.
Saat ini, pasar ekspor yang masih dilayani perusahaan berfokus ke Jepang. Manajemen belum menyampaikan rencana perluasan pemasaran ke negara lain untuk mengimbangi penurunan permintaan tersebut.
Tekanan keuangan perusahaan juga diperberat kenaikan biaya produksi. Sejumlah bahan pendukung, seperti lem dan kebutuhan operasional lainnya, mengalami kenaikan harga. Sementara itu, harga jual plywood belum mengalami penyesuaian.
“Biaya operasional meningkat. Bahan-bahan seperti lem dan kebutuhan produksi lainnya juga mengalami kenaikan harga, sedangkan harga plywood belum naik. Kondisi ini ikut memengaruhi keuangan perusahaan,” ungkap Imam.
Di sisi lain, persoalan pasokan bahan baku kayu disebut bukan menjadi kendala utama. Perusahaan masih memiliki sumber bahan baku sendiri sehingga kebutuhan produksi sejauh ini masih dapat dipenuhi.
“Kalau bahan baku tidak ada masalah. Kami memiliki sumber bahan baku sendiri, sehingga kendala yang sedang dihadapi sekarang lebih kepada kondisi cash flow perusahaan,” katanya.
Untuk menjaga agar operasional perusahaan tetap berjalan, manajemen tengah menyiapkan sejumlah langkah pemulihan. Salah satunya dengan menjual kayu log untuk mendapatkan tambahan dana guna memenuhi kebutuhan arus kas.
Selain itu, opsi mencari pembiayaan melalui perbankan juga akan dibicarakan dengan pemilik perusahaan. Namun, manajemen belum dapat memastikan skema maupun waktu pelaksanaannya.
“Menjual kayu log dengan harapan hasil penjualannya bisa membantu menutup kebutuhan cash flow perusahaan. Kalau untuk upaya mencari pembiayaan dari perbankan, tentu akan kami bicarakan terlebih dahulu dengan pemilik perusahaan,” ujarnya.
Imam mengungkapkan, kesulitan yang dialami perusahaan bukan persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Kondisi tersebut merupakan akumulasi dari sejumlah persoalan usaha yang berlangsung cukup lama hingga akhirnya berdampak pada penurunan aktivitas perusahaan saat ini.
Situasi ini turut menimbulkan kekhawatiran terhadap nasib tenaga kerja. Dengan jumlah karyawan yang diperkirakan masih sekitar 1.500 orang, kemungkinan adanya kebijakan merumahkan pekerja belum dapat dipastikan.
Imam belum memberikan keputusan terkait kemungkinan tersebut. Manajemen masih akan melihat perkembangan kondisi perusahaan sebelum menentukan langkah terhadap tenaga kerja.
“Sebetulnya ini sudah lama. Ada akumulasi dari beberapa kesulitan, kemudian dampaknya terasa sampai perusahaan mengalami penurunan seperti sekarang. Untuk langkah seperti merumahkan karyawan atau kebijakan lainnya, nanti akan kami lihat perkembangan kondisi perusahaan ke depan. Saat ini kami masih melihat bagaimana usaha bisa tetap berjalan,” katanya.
Di tengah tekanan tersebut, manajemen berharap perusahaan masih dapat bertahan dan mempertahankan kegiatan operasionalnya. Sebab, keberlangsungan Intracawood tidak hanya berkaitan dengan aktivitas industri pengolahan kayu, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi ribuan pekerja dan keluarganya.
“Saya meminta dukungan dan doa agar Intracawood tetap bisa bertahan. Perusahaan ini menyangkut kepentingan banyak orang, termasuk para pekerja yang menggantungkan penghidupan di sini,” pungkasnya. (rz)
Iklan: Gempur Rokok Ilegal
Artikel Terkait
- Rumah Belum Dibagi Pascacerai, Sertifikat Diduga Dipakai Agunan Kredit Rp1 Miliar
- Upah Pekerja Kembali Bermasalah, Disnaker Kaltara Belum Lakukan Pemeriksaan
- Arena 'Saya Akan Lawan!! Crawler' Bergemuruh, Bikin Mata Tak Bisa Berkedip
- Belum Ada Petani Bersertifikat ISPO, Nasib TBS Sawit Kaltara Terancam