Rehabilitasi Mangrove M4CR di Kaltara Capai 10.900 Hektare

Rehabilitasi Mangrove M4CR di Kaltara Capai 10.900 Hektare

TARAKAN – Program rehabilitasi mangrove melalui Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) di Kalimantan Utara (Kaltara) telah mencapai sekitar 10.900 hektare atau 77,9 persen dari target 14.000 hektare untuk periode 2024–2027. Untuk melanjutkan capaian tersebut, pengelola program tengah menyiapkan tambahan rencana rehabilitasi seluas 1.170 hektare.

PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara Tahun 2026, Akhmad Ashar Sarif, mengatakan realisasi rehabilitasi tersebut merupakan hasil pelaksanaan program yang terus berjalan sesuai tahapan. Sejumlah rencana kerja juga tengah disiapkan untuk mengejar target yang telah ditetapkan hingga 2027.

“Dari target sekitar 14.000 hektare untuk periode 2024 sampai 2027, saat ini realisasinya sudah mencapai sekitar 10.900 hektare,” ujar Akhmad.

Dia menjelaskan, untuk tahapan berikutnya telah disiapkan rencana penanaman seluas 800 hektare. Selain itu, terdapat dukungan tambahan sekitar 370 hektare yang juga sedang direncanakan.

Dengan demikian, total tambahan luasan yang disiapkan mencapai sekitar 1.170 hektare. Meski demikian, pelaksanaannya masih memerlukan penyusunan dan pematangan rencana kerja.

“Ke depan masih ada penyusunan rencana kerja. Saat ini sudah disiapkan sekitar 800 hektare dan rencananya akan mendapat dukungan tambahan 370 hektare. Jadi totalnya sekitar 1.100 hektare lebih,” jelasnya.

Jika dibandingkan dengan target keseluruhan, capaian 10.900 hektare masih menyisakan sekitar 3.100 hektare yang perlu direhabilitasi. Karena itu, penambahan luasan menjadi salah satu bagian penting dalam upaya memenuhi target program hingga 2027.

Tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove, M4CR juga mendorong pengembangan konsep silvofishery atau sistem budidaya perikanan yang terintegrasi dengan ekosistem mangrove.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengakomodasi aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pembudidaya tambak, tanpa mengabaikan fungsi ekologis kawasan mangrove. Namun, efektivitas penerapannya masih membutuhkan pembuktian melalui penelitian lebih lanjut.

Akhmad mengakui, informasi mengenai dampak silvofishery yang tersedia saat ini sebagian besar masih berdasarkan pengalaman kelompok masyarakat di daerah. Data tersebut dinilai belum cukup untuk menggambarkan hasil penerapannya secara menyeluruh.

“Untuk silvofishery, memang masih perlu dilakukan riset lebih lanjut untuk melihat hasil nyatanya. Saat ini informasi mengenai dampaknya masih berdasarkan pengalaman kelompok-kelompok di daerah. Jadi, hal itu perlu dikonfirmasi lagi melalui penelitian,” katanya.

Menurutnya, penelitian diperlukan untuk mengetahui sejauh mana penerapan silvofishery memberikan manfaat terhadap kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

“Kami ingin melihat hasil nyatanya, baik dari aspek lingkungan maupun sosial ekonomi masyarakat, sehingga penerapannya bisa dinilai berdasarkan kajian yang lebih jelas,” tegasnya.

Dengan demikian, keberhasilan program M4CR tidak hanya diukur dari luasan mangrove yang berhasil direhabilitasi, tetapi juga dari keberlanjutan ekosistem serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat pesisir. (rz)

Iklan: Konferkab PWI Nunukan

Iklan: Survey Patok Perbatasan

Artikel Terkait