KALTARATARAKAN

Deteksi Dini Gangguan Mental, Lapas Tarakan Gandeng Psikolog

TARAKAN – Isu kesehatan mental di lingkungan lembaga pemasyarakatan kembali menjadi perhatian. Lapas Kelas IIA Tarakan menggandeng Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Kalimantan Utara untuk menggelar psikoedukasi dan skrining kesehatan mental bagi petugas dan warga binaan pemasyarakatan (WBP), Jumat (31/7/2026).

Kegiatan ini tak sekadar sosialisasi, tetapi menjadi langkah preventif untuk mendeteksi dini gangguan psikologis di lingkungan lapas yang memiliki tekanan tinggi, baik bagi petugas maupun warga binaan.

Psikolog Fachri Fahmi dalam pemaparannya menekankan pentingnya pemahaman kesehatan mental selama menjalani masa pembinaan. Tema
‘Menjaga Kesehatan Mental di Lembaga Pemasyarakatan’ diangkat untuk mendorong kesadaran bahwa kondisi psikologis berpengaruh besar terhadap perilaku dan proses reintegrasi sosial.

Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan melalui Kepala Sub Seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimaswat), Taufik Rowandy menyebutkan, kegiatan ini menyasar tidak hanya petugas, tetapi juga WBP, khususnya yang masih berstatus tahanan maupun narapidana yang belum memasuki tahap pembinaan awal.

“Tujuannya agar mereka memiliki kesadaran sejak dini terhadap kondisi psikologisnya selama menjalani masa pembinaan,” sebutnya.

Menurut Taufik, tekanan lingkungan di dalam lapas berpotensi memicu gangguan mental jika tidak ditangani secara tepat. Karena itu, skrining menjadi langkah penting untuk menentukan tindak lanjut, termasuk pendampingan psikologis.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan IPK Indonesia Wilayah Kaltara dalam kegiatan tersebut. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena berdampak langsung pada kondusivitas pembinaan, serta keamanan dan ketertiban di dalam lapas,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Lapas Tarakan menegaskan komitmennya untuk tidak hanya fokus pada pembinaan fisik dan kedisiplinan, tetapi juga kesehatan mental sebagai bagian penting dalam proses rehabilitasi.

Pendampingan psikologis diharapkan dapat membantu warga binaan lebih siap kembali ke masyarakat, sekaligus meminimalkan potensi konflik di dalam lapas. (rz)

Back to top button