Bantuan Alat Usaha Rp100 Juta per Kelompok, Rahmawati Khawatir Berujung Dijual
TARAKAN – Bantuan peralatan usaha dari pemerintah pusat dengan nilai mencapai Rp100 juta per kelompok justru menyisakan kekhawatiran. Anggota Komisi VII DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Utara (Kaltara), Hj. Rahmawati mengaku sempat ragu memperjuangkan bantuan tersebut karena melihat sejumlah kelompok calon penerima belum kompak.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Peralatan usaha yang seharusnya digunakan bersama untuk mengembangkan ekonomi kelompok berpotensi diperjualbelikan jika tidak ada kesepakatan dan tanggung jawab antaranggota.
Rahmawati mengungkapkan, sebelumnya terdapat kelompok usaha yang mengajukan bantuan peralatan kopi dan bengkel dengan nilai sekitar Rp100 juta untuk satu kelompok. Namun, kondisi internal kelompok yang dinilai belum solid membuatnya mempertimbangkan kembali pengajuan tersebut.
“Kemarin saya hampir membatalkan bantuan untuk beberapa kelompok usaha yang mengajukan alat kopi dan alat bengkel. Nilainya sekitar Rp100 juta untuk satu kelompok. Namun, karena mereka tidak kompak, saya juga jadi takut. Siapa tahu setelah bantuan diberikan, alatnya justru dijual,” ujarnya.
Menurut Rahmawati, persoalan kekompakan tidak bisa dianggap sepele. Peralatan yang diberikan merupakan fasilitas bersama sehingga harus memiliki kesepakatan pengelolaan yang jelas.
Ia khawatir perbedaan pendapat di antara anggota justru berujung pada penjualan peralatan bantuan, kemudian hasilnya dibagi tanpa mempertimbangkan tujuan awal program.
“Kalau kelompoknya tidak kompak, saya juga jadi khawatir. Misalnya, ada anggota yang tidak cocok dengan anggota lain, kemudian alatnya dijual dan hasilnya dibagi. Kalau seperti itu, siapa yang bertanggung jawab? Makanya, saya memberikan bantuan kepada orang-orang yang bisa dipercaya,” tegasnya.
Di sisi lain, Rahmawati membuka peluang bagi masyarakat di Kaltara untuk mengajukan bantuan peralatan produktif melalui yayasan. Kelompok yang dibentuk dapat beranggotakan 10 hingga 20 orang, disesuaikan dengan jenis usaha yang akan dikembangkan.
Bantuan yang bisa diusulkan cukup beragam, mulai dari mesin jahit hingga 20 unit, peralatan bengkel, perlengkapan usaha kopi, sampai fasilitas pelatihan keterampilan seperti rumah kue dan rumah kemasan.
“Siapa pun di antara kita bisa mengajukan melalui yayasan. Misalnya, ibu-ibu membentuk kelompok 10 orang atau 20 orang, kemudian ingin membuat tempat pelatihan keterampilan membuat kue. Bisa juga membuat rumah kemasan atau rumah kue. Silakan ajukan kepada saya,” katanya.
Ia menjelaskan, pengajuan bantuan akan melalui proses verifikasi pihak terkait, termasuk BRI dan kementerian. Karena itu, kelompok penerima diminta memastikan fasilitas yang diberikan benar-benar digunakan sesuai peruntukannya.
Rahmawati juga menegaskan, bantuan tersebut bersumber dari program pemerintah pusat, bukan menggunakan uang pribadinya. Ia mengaku hanya memperjuangkan agar program tersebut bisa menjangkau kelompok masyarakat di daerah pemilihannya.
“Mumpung saya sebagai anggota DPR RI, sebenarnya bukan uang saya. Itu uang pemerintah pusat, saya hanya melobi ke sana agar bantuan itu diberikan kepada ibu-ibu yang ada di sini,” ungkapnya.
Ia meminta masyarakat yang berminat mengajukan bantuan terlebih dahulu membentuk kelompok, menentukan jenis usaha, serta menyusun kebutuhan peralatan. Namun, menurutnya, kesiapan dan kekompakan anggota harus menjadi perhatian sebelum bantuan diberikan.
“Kalau memang ingin membuat usaha bersama, tentukan dulu apa yang mau dikerjakan dan apa kebutuhannya. Kalau sudah menerima bantuan, tolong dijaga dan digunakan sesuai peruntukannya. Saya minta ibu-ibu tetap kompak,” pungkasnya. (rz)