DLH Akui Hanya 10 Armada Sampah Beroperasi, Bantah Petugas Tak Angkut karena Gaji
NUNUKAN – Penumpukan sampah di sejumlah pasar di Kabupaten Nunukan yang sempat dikeluhkan pedagang akhirnya mendapat penjelasan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nunukan.
Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Nunukan, Muhammad Irfan Ahmad mengungkapkan, keterbatasan armada menjadi salah satu persoalan yang dihadapi dalam pelayanan pengangkutan sampah. Dari total sekitar 15 hingga 16 unit kendaraan yang dimiliki, hanya 10 unit yang saat ini dapat beroperasi secara optimal.
Sepuluh kendaraan tersebut terdiri atas lima unit dump truck dan lima unit armroll. Sementara kendaraan lainnya mengalami kendala operasional sehingga belum seluruhnya dapat dimanfaatkan untuk melayani pengangkutan sampah.
Menurut Irfan, jumlah armada yang tersedia saat ini belum sebanding dengan kebutuhan pelayanan. Sebab, DLH harus menangani sekitar 14 rute pengangkutan sampah setiap harinya.
“Kalau jumlahnya kurang lebih 15 sampai 16 unit. Tapi yang betul-betul beroperasi itu sekitar lima dump truck, ditambah lima armroll. Jadi 10 unit yang beroperasi,” ungkap Irfan.
Ia mengakui, dengan 10 kendaraan tersebut, pelayanan pengangkutan sampah masih cukup berat. Terlebih, pengangkutan harus menjangkau berbagai wilayah dengan rute yang telah ditentukan.
Kondisi tersebut semakin terasa ketika memasuki hari Minggu. DLH mengurangi jumlah kendaraan yang beroperasi karena sebagian petugas diberikan waktu libur untuk beristirahat dan menjalankan ibadah.
Pada hari tersebut, pengangkutan biasanya hanya mengandalkan sekitar empat kendaraan yang diprioritaskan untuk melayani jalur protokol.
“Kalau hari Minggu paling berjalan empat mobil saja. Itu mengambil jalur protokol karena orang juga pada libur. Kami kasih libur juga, kasihan kalau satu minggu bekerja terus,” jelasnya.
Supir Sakit, Pengangkutan Pasar Sempat Terhambat
Penjelasan tersebut sekaligus menjawab keluhan pedagang terkait penumpukan sampah di dua kawasan pasar, yakni Pasar Sentral Inhutani dan Pasar Liem Hie Djung, yang sebelumnya diberitakan Satukaltara.com pada 5 November 2026.
Dalam pemberitaan tersebut, tumpukan sampah terlihat menggunung di tempat penampungan sementara (TPS). Bahkan, sampah meluber hingga menutupi sebagian badan jalan dan menyulitkan kendaraan yang melintas.
Seorang pedagang bernama Yanti mengaku sampah sudah menumpuk sejak Sabtu, 31 Oktober 2026. Ia juga menyebut kondisi tersebut tidak seperti biasanya karena kawasan pasar relatif rutin dibersihkan.
Yanti sempat menduga keterlambatan pengangkutan berkaitan dengan pembayaran gaji petugas kebersihan. Dugaan itu muncul setelah ia beberapa kali menanyakan alasan sampah tidak segera diangkut.
Namun, Irfan membantah persoalan tersebut. Ia memastikan pembayaran gaji petugas kebersihan berjalan rutin dan tidak menjadi penyebab terhambatnya pengangkutan sampah.
Menurutnya, keterlambatan pengangkutan di kawasan Pasar Sentral Inhutani terjadi karena sopir yang bertugas di wilayah tersebut sedang sakit.
“Kalau Pasar Inhutani sebenarnya bukan seminggu, baru tiga hari. Kasihan sopir saya, sakit sopirnya di wilayah situ,” katanya.
Irfan menyebut, setelah mendapat informasi mengenai kondisi sopir tersebut, pihaknya segera melakukan penanganan. Pengangkutan di kawasan pasar itu pun telah kembali dilakukan.
Ia menegaskan, apabila sopir mengalami sakit dan tidak memungkinkan bekerja, DLH semestinya segera menyiapkan pengganti agar pelayanan tidak terlalu lama terganggu.
“Kalau sampai seminggu itu lama sekali. Paling lama dua hari. Kalau memang kondisi sopir sakit dan tidak bisa bekerja, kami ganti dengan sopir lain dan mobil yang lain. Tetap harus ganti unit langsung kalau terjadi seperti itu,” tegasnya.
Ia juga menyebut persoalan serupa terjadi pada sopir yang menangani kendaraan operasional di wilayah lain. Meski demikian, Irfan memastikan pengangkutan tetap diupayakan berjalan dengan menyesuaikan kondisi armada dan petugas. (sq)
Iklan: Gempur Rokok Ilegal
Artikel Terkait
- Warga Lempar Telur ke DPRD Bulungan, Aspirasi Belum Terjawab Berujung Laporan Polisi
- Kebakaran Lahan di Binusan, Pemkab Nunukan Kerahkan Tim Gabungan Padamkan Api
- Korban Dugaan Penipuan Proyek Bertambah, Kerugian Tembus Rp400 Juta
- Dicari 24 Jam, Bocah Tenggelam di Sungai Sajau Pura Ditemukan Meninggal