Tembilugh, Si Cacing Kayu yang Menembus Batas Kuliner Pesisir Kaltara

Makanan yang Bikin Ragu hingga Jadi Buruan Wisatawan

Tembilugh, Si Cacing Kayu yang Menembus Batas Kuliner Pesisir Kaltara

Sekilas, bentuknya mungkin membuat sebagian orang mengernyitkan dahi. Tubuhnya panjang, berwarna putih, dan menyerupai cacing. Namun, begitu bercampur dengan kuah asam pedas, cabai rawit, serta perasan jeruk kalamansi, Tembilugh justru menghadirkan sensasi rasa yang sulit dilupakan.

Rewinda Karinata satukaltara.com

ADA rasa gurih yang berpadu dengan kuah asam menyegarkan. Teksturnya kenyal, sementara aroma khasnya menjadi pengalaman tersendiri bagi siapa pun yang baru pertama kali mencicipinya.

Bagi masyarakat pesisir Kalimantan Utara (Kaltara), Tembilugh bukan makanan asing. Jauh sebelum ramai diperbincangkan di media sosial (medsos), hewan laut ini sudah menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat yang tinggal di sekitar muara dan kawasan mangrove.

Namun, sesuatu berubah dalam beberapa waktu terakhir. Makanan yang dahulu hanya dikenal di lingkungan masyarakat pesisir itu kini mulai menarik perhatian penikmat kuliner dari luar daerah. Bentuknya yang tak biasa justru menjadi daya tarik tersendiri.

Tembilugh perlahan keluar dari batas dapur tradisional. Konten para pembuat video kuliner di media sosial membuat semakin banyak orang penasaran. Ada yang datang karena ingin mencicipi, ada pula yang sekadar ingin membuktikan apakah makanan dengan penampilan ekstrem itu benar-benar memiliki rasa yang istimewa.

Karina (26), warga Tarakan, termasuk yang awalnya dibuat ragu oleh penampilan Tembilugh. Ia mengaku mengenal kuliner tersebut melalui konten media sosial sebelum akhirnya memutuskan untuk mencicipinya.

"Awalnya melihat konten yang terkenal dari Kalimantan Utara, salah satunya Norlela. Semakin ke sini semakin penasaran. Istilah sekarang mungkin FOMO. Begitu ada pemesanan sampai ke luar Kalimantan, kami ikut mencoba. Awalnya ragu, tetapi setelah dirasakan ternyata rasanya tidak seperti tampilannya. Kuah asamnya segar dan ini pengalaman kuliner yang tidak terlupakan," ungkapnya.

Di balik bentuknya yang tidak biasa, Tembilugh menyimpan cerita tentang hubungan masyarakat pesisir dengan alam sekitarnya.
Hewan ini bukan cacing biasa, bukan pula kerang yang hidup di dasar laut. Tembilugh merupakan kelompok moluska bivalvia penggerek kayu yang hidup di dalam batang pohon bakau atau mangrove yang telah mati dan terendam air payau. Hewan sejenis dikenal secara internasional dengan sebutan shipworm.

Mendapatkannya bukan perkara mudah. Masyarakat harus menyusuri kawasan muara ketika air surut, mencari batang bakau lapuk, kemudian membelahnya untuk menemukan Tembilugh yang bersembunyi di dalam kayu.

Oliv (26), warga Desa Seputuk, Kecamatan Muruk Rian, Kabupaten Tana Tidung mengatakan, tradisi mencari Tembilugh sudah dikenal sejak generasi orang tuanya. Menurutnya, masyarakat dahulu memiliki waktu-waktu tertentu untuk mencari hewan tersebut, terutama ketika permukaan air sungai mulai surut.

"Dulu orang tua kami mencari Tembilugh saat musim tertentu atau ketika air sungai turun. Rasanya gurih alami dan punya aroma khas. Nenek moyang kami dulu sering memakannya mentah-mentah dengan perasan jeruk nipis dan lombok," tuturnya.

Cara menyantapnya pun mengalami perkembangan. Jika dahulu masyarakat terbiasa mengonsumsinya secara sederhana, kini Tembilugh diolah dengan berbagai racikan bumbu.

Salah satu yang paling dikenal adalah Tembilugh kuah asam pedas. Ada pula yang menyajikannya mentah dengan cabai, garam, dan jeruk kalamansi. Perpaduan rasa asam, pedas, dan gurih menjadi ciri khas yang membuat kuliner ini berbeda dari hidangan laut lainnya.

Meningkatnya popularitas Tembilugh membuka peluang baru bagi masyarakat pesisir. Kuliner yang sebelumnya hanya berputar di lingkungan lokal kini memiliki pasar lebih luas, terutama setelah menarik perhatian wisatawan dan penikmat kuliner dari luar Kaltara.

Tetapi, di balik peluang tersebut, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yakni keberadaan mangrove sebagai habitat Tembilugh.

Maryanto, pejabat di lingkungan Dinas Kehutanan Provinsi Kaltara sekaligus pemerhati lingkungan, mengingatkan agar tradisi mencari Tembilugh tidak berujung pada kerusakan kawasan mangrove.

Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam untuk kebutuhan kuliner dan ekonomi masyarakat tetap perlu memperhatikan keseimbangan ekosistem.

"Kita tidak melarang dalam mewarisi tradisi adat. Namun, dalam keberlanjutan, diharapkan tidak ada perusakan hutan atau pepohonan. Selama tidak mengancam populasi dan habitat aslinya, tentu bisa terus dilakukan," ujarnya, Jumat (30/10/2026).

Ia menilai kelestarian mangrove menjadi salah satu kunci agar Tembilugh tetap tersedia dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Kunci keberlanjutan kuliner ini ada pada kelestarian mangrove kita. Selama hutan bakau dijaga, Tembilugh akan terus ada sebagai warisan sekaligus sumber rezeki," tegasnya.

Kini, Tembilugh bukan sekadar makanan yang ditemukan di balik batang bakau. Ia menjadi cerita tentang tradisi masyarakat pesisir, kekayaan alam Kaltara, sekaligus perubahan selera kuliner di tengah derasnya arus media sosial.

Dari muara yang jauh dari keramaian hingga meja makan para pencinta kuliner, Tembilugh membuktikan bahwa sesuatu yang awalnya dipandang asing belum tentu kehilangan daya tariknya. Kadang, justru dari bentuk yang membuat orang ragu, lahir rasa penasaran yang membawa sebuah kuliner lokal melintasi batas daerah.

Namun, popularitas itu juga membawa tanggung jawab. Sebab, selama mangrove tetap terjaga, warisan kuliner dari balik batang bakau ini masih punya kesempatan untuk terus dinikmati. (***)

Artikel Terkait