NUNUKAN – Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kabupaten Nunukan meningkat pada Agustus 2026. Namun, kenaikan tersebut belum diikuti durasi tinggal yang panjang. Rata-rata lama menginap tamu hanya 1,25 hari, sedangkan tingkat penghunian kamar hotel dan akomodasi lainnya tercatat 23,58 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan mencatat sebanyak 1.418 kunjungan wisman melalui pintu keimigrasian pada Agustus 2026. Jumlah ini meningkat 14,82 persen atau bertambah 183 kunjungan dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 1.235 kunjungan.
Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Iskandar Ahmaddien, mengatakan tantangan pengembangan pariwisata di wilayah perbatasan tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah kunjungan. Pengunjung juga perlu memiliki alasan untuk tinggal lebih lama dan melakukan aktivitas ekonomi selama berada di Nunukan.
“Pada Agustus 2026 tercatat 1.418 kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat sekitar 14,82 persen dibandingkan Juli. Namun, rata-rata lama menginap masih 1,25 hari,” ujar Iskandar, Sabtu (3/10/2026).
Menurut dia, mobilitas wisman melalui pintu keimigrasian di wilayah perbatasan tidak seluruhnya berkaitan dengan kegiatan wisata. Sebagian kunjungan dapat dipengaruhi urusan keluarga, pekerjaan, perdagangan, maupun aktivitas lintas negara lainnya.
Kondisi tersebut membuat peningkatan jumlah kunjungan belum bisa langsung diartikan sebagai pertumbuhan kegiatan pariwisata. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan mobilitas lintas batas dengan destinasi wisata, usaha akomodasi, kuliner, transportasi, dan perdagangan lokal.
Iskandar menjelaskan, semakin lama pengunjung berada di suatu daerah, semakin besar pula peluang terjadinya transaksi ekonomi. Peluang tersebut dapat dinikmati pelaku usaha hotel, makanan dan minuman, jasa transportasi, perjalanan wisata, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Semakin lama seorang pengunjung berada di suatu daerah, semakin besar pula peluang terjadinya aktivitas ekonomi, mulai dari hotel, makanan dan minuman, transportasi, perdagangan, jasa perjalanan hingga pembelian produk UMKM,” jelasnya.
Nunukan dan Sebatik, lanjutnya, memiliki potensi wisata alam dan bahari, kuliner, budaya masyarakat perbatasan, serta produk UMKM yang dapat dikembangkan untuk menarik minat pengunjung.
Pengunjung yang semula datang untuk urusan pekerjaan, keluarga, atau perdagangan lintas batas juga berpeluang menjadi konsumen bagi usaha lokal jika tersedia pilihan destinasi, kegiatan budaya, dan pengalaman kuliner yang mudah dijangkau.
Karena itu, pengembangan paket wisata, agenda budaya, kegiatan olahraga, kuliner, dan ekonomi kreatif dinilai dapat menjadi salah satu upaya memperpanjang lama tinggal pengunjung.
“Indikator keberhasilan pengembangan pariwisata Nunukan ke depan sebaiknya tidak hanya dilihat dari berapa banyak orang yang datang, tetapi juga berapa lama mereka tinggal dan seberapa besar aktivitas ekonomi yang tercipta selama berada di Nunukan,” tuturnya.
Bagi Nunukan sebagai daerah perbatasan Indonesia-Malaysia, tingginya mobilitas lintas negara menjadi peluang untuk memperluas pasar bagi pelaku usaha lokal. Namun, peluang itu perlu ditopang oleh daya tarik destinasi, kemudahan akses, dan kegiatan yang membuat pengunjung memilih menghabiskan lebih banyak waktu di daerah ini. (ryn)




