TARAKAN – Peluang produk olahan bandeng tanpa duri asal Kalimantan Utara (Kaltara) menembus pasar internasional mulai terbuka. Namun, penjajakan kerja sama dengan perusahaan asal Sabah, Malaysia, belum dapat dipastikan berlanjut menjadi kontrak penjualan dan realisasi ekspor.
UMKM Dbaloy menjajaki kerja sama dengan BMH Sdn. Bhd. dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Di tengah peluang tersebut, Dbaloy juga mencatatkan total nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) senilai Rp1,12 miliar selama pameran.
Meski demikian, nilai MoU tersebut belum serta-merta menunjukkan transaksi yang telah terealisasi. Kepastian mengenai nilai kontrak yang mengikat, volume pesanan, hingga jadwal pengiriman produk ke pasar luar negeri belum dijelaskan dalam keterangan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Utara (Kaltara).
Kepala Perwakilan BI Kaltara, Agus Taufik mengatakan, keikutsertaan Dbaloy dalam TEI 2026 merupakan bagian dari upaya memperluas akses pasar produk olahan perikanan daerah ke tingkat internasional.
“Keikutsertaan Dbaloy di TEI 2026 bukan sekadar mencari penjualan jangka pendek, tetapi membangun fondasi ekspor yang berkelanjutan,” ujar Agus, Jumat (23/10/2026).
Selama pameran, Dbaloy mengikuti sejumlah agenda bisnis, mulai dari business matching hingga business pitching, untuk bertemu calon pembeli dari dalam dan luar negeri.
Selain Malaysia, komunikasi bisnis juga dilakukan dengan calon pembeli dari Kuwait, Jepang, India, Filipina, Nigeria, Uni Emirat Arab, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Penjajakan dengan calon pembeli asal Kuwait melalui Letter of Intent (LoI) telah memasuki tahap negosiasi. Dbaloy juga menjalin komunikasi dengan jaringan ritel modern Suzuya Group di Medan.
Sementara itu, calon mitra dari Singapura tengah menjajaki skema pengiriman Less than Container Load (LCL), yakni pengiriman barang dengan kapasitas kurang dari satu kontainer penuh. Penyesuaian kemasan menjadi salah satu aspek yang perlu dipersiapkan dalam proses tersebut.
Di balik peluang pasar yang terbuka, Dbaloy masih perlu memperkuat kesiapan operasional untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas. BI Kaltara mencatat sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian, di antaranya efisiensi biaya logistik, pemenuhan sertifikasi halal internasional, serta peningkatan kapasitas produksi.
Faktor tersebut menjadi penting agar peluang kerja sama tidak berhenti pada pertemuan bisnis dan kesepakatan awal. Produk yang diminati calon pembeli juga harus mampu dipasok secara konsisten dengan memenuhi persyaratan pasar tujuan.
Respons konsumen selama TEI 2026 memberi indikasi awal terhadap penerimaan produk Dbaloy. Sebanyak 170 kotak produk yang dibawa ke pameran habis terjual, terdiri atas 100 kotak Bandeng Prestoku dan 70 kotak Bandeng Asapku.
Namun, penjualan selama pameran belum cukup untuk menggambarkan besarnya permintaan pasar dalam jangka panjang. Keberlanjutan permintaan masih perlu dibuktikan melalui pesanan berulang dan kerja sama komersial yang terealisasi.
Agus menilai, penjajakan dengan mitra dari Sabah dan calon pembeli dari berbagai negara membuka peluang bagi produk olahan perikanan Kaltara untuk memperluas jangkauan pasar.
BI Kaltara akan meneruskan pendampingan kepada Dbaloy, terutama dalam peningkatan kualitas produk, penguatan daya saing, serta perluasan akses pemasaran. Sinergi dengan pemerintah daerah dan mitra strategis juga akan diperkuat untuk mendukung pengembangan industri pengolahan hasil perikanan.
“Kami akan terus memperkuat pendampingan dan fasilitasi sinergis agar komoditas unggulan daerah mampu memberikan nilai tambah secara nyata serta menopang pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara yang inklusif dan berkelanjutan,” tutup Agus. (rz)




