TARAKAN – Batik Busak Uwe asal Kabupaten Malinau mulai membuka peluang menembus pasar fesyen yang lebih luas. Batik ini menarik perhatian desainer nasional Irma Sari Joeda dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.
Ketertarikan tersebut juga menjadi perhatian perajin lokal Kaltara untuk mengembangkan desain, meningkatkan nilai tambah produk, hingga memperluas pemasaran melalui kolaborasi dengan pelaku industri fesyen nasional. Upaya itu kemudian mendapat respon positif dari Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kaltara, Agus Taufik.
“Potensi kolaborasi antara desainer nasional dengan perajin Batik Busak Uwe Malinau ini menjadi sinyal positif bahwa karya lokal kita memiliki nilai estetika dan kualitas yang berpeluang bersaing di pasar yang lebih luas,” kata Agus Taufik.
Menurutnya, peluang tersebut perlu ditindaklanjuti agar tidak berhenti pada pengenalan produk, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang memberikan manfaat ekonomi bagi perajin dan pelaku usaha daerah. Selain itu, produk unggulan Kaltara juga menarik minat calon mitra bisnis dari sejumlah negara, mulai dari Turki, Korea Selatan, Malaysia hingga Brunei Darussalam melalui sesi business matching.
Dalam ajang ekonomi syariah tersebut, BI Kaltara diketahui membawa lima UMKM anggota Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA), yakni QQ Fashion Designer, Tarasa yang memproduksi lapis Tarakan, serta Juwataku, Balamok, dan Akai-akai. Kelima UMKM tersebut mencatatkan transaksi penjualan sementara sebesar Rp113,69 juta hingga penutupan pameran.
“Angka ini masih menunggu rekapitulasi akhir dari panitia,” jelas Agus.
Di sisi lain, kesempatan bertemu calon mitra bisnis di ajang ini juga memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk memahami kebutuhan konsumen dan peluang pengembangan produk. Melalui kategori Halal Food, Halal Mart, serta panggung Wastra & Ready to Wear, UMKM memperoleh kesempatan mengenali standar sertifikasi halal, tren preferensi pasar global, hingga strategi penguatan rantai pasok.
“Keikutsertaan UMKM Kaltara di ajang ISEF tidak hanya berorientasi pada penjualan selama pameran, tetapi juga membuka akses jaringan bisnis dan pasar internasional bagi produk unggulan daerah,” tegasnya.
Ke depan, BI Kaltara bersama pemerintah daerah akan menindaklanjuti potensi kerja sama yang terbangun selama ISEF agar peluang tersebut dapat direalisasikan. Pendampingan bagi UMKM juga akan terus diperkuat, mulai dari pengembangan produk hingga perluasan akses pemasaran.
“Pendampingan akan terus dilakukan dari hulu hingga hilir agar komoditas unggulan Kaltara mampu meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Agus. (rz)




