Pariwisata FEATURE Inspirasi Nunukan

Lebih Dekat dengan Mutmainnah – Kompas Wisata Muda dari Ujung KalimantanBangga Disaksikan Orang Tua, Ajak Semua Pihak Kemas dan Kembangkan Pariwisata Menjadi Besar

BANGGA : Mutmainnah berhasil meraih peringkat kedua dalam ajang Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Nunukan tahun 2026 belum lama ini. Orang dekatnya mengaku bangga atas pencapaian Mutmainnah.

Kalau ada yang memanggilnya “Inna”, siap-siaplah mendapatkan koreksi instan dari perempuan cantik ini. Nadanya tegas tapi ramah. Tidak kesal, tapi meluruskan. Lantas, siapa nama lengkap dan nama panggilan Duta Wisata Nunukan ini? Simak penjelasannya.

M. ASSIDDIQ RUSTAN, satukaltara.com

“MUTMA! Bukan Inna!” tegas remaja bernama lengkap Mutmainnah ini, tapi intonasinya tetap sopan di telinga. “Nggak, Mutma!” katanya lagi usai ditanya kembali soal panggilan ‘Inna’ lebih baik dari ‘Mutma’ sambil terkekeh.

Demikianlah keramahan remaja muda bersenyum manis tersebut saat memulai percakapan. Dia masih berstatus pelajar SMA Negeri 1 Nunukan Selatan, sebentar lagi akan melepas masa seragam putih-abunya. Namun, dari caranya menyambut tamu seperti kami, satukaltara.com, Mutma terlihat sangat dewasa.

Ternyata, di balik statusnya yang masih SMA kelas XII, pelajar berlesung pipit ini juga menyimpan mimpi besar. Ada keberanian yang Mutma pendam. Selain itu, Mutma juga menyimpan energi besar membawa nama daerahnya, Kabupaten Nunukan, melesat lebih jauh di sektor pariwisata.

Nelayan Nunukan Tak Bisa Sembarangan Ambil BBM Subsidi

Ya, seminggu lalu, panggung ajang Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Nunukan menjadi saksi kemunculan sosok perempuan yang berulang tahun pada 5 Juli tersebut. Kompetisi bergengsi tahunan itu diikuti oleh 14 putra-putri daerah terbaik yang unjuk bakat serta kecakapan. Mereka saling memaparkan potensi bahari hingga destinasi tersembunyi di batas utara nusantara.

Menariknya, ini adalah debut pertama Mutma di panggung Duta Wisata. Hasilnya? Luar biasa. Remaja berusia 18 tahun tersebut. berhasil menyabet gelar Juara 2 atau 3 Besar Terbaik. Dia bangga. Orang tuanya bangga. Orang di sekitarnya, semua mendukung langkah dan masa depannya.

Kata Mutma, ketertarikannya pada ajang ini sebenarnya berawal dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kesehariannya. Jiwa petualangnya sudah terasah sejak bangku SMP lewat kegiatan Pramuka—tak heran jika matanya selalu berbinar setiap kali menatap indahnya alam bebas. Begitu juga saat melihat keseruan Paras Fest 2026 dan deretan festival lokal lainnya, benih ketertarikan itu mulai tumbuh.

“Ada di situ (juga) Duta Wisata. Saya tertarik lah, Kak. Karena memang saya ini suka sama yang namanya wisata,” beber Mutma antusias.

GUGUP : Saat tampil dipanggung, Mutmainnah mengaku sempat gugup. Namun hal itu bisa diatasi dengan rasa percaya diri dan keberanian yang tinggi.

Bukan hanya modal suka jalan-jalan. Anak pasangan Amirullah dan Muliana ini juga punya ‘senjata rahasia’ di tangannya: kemahiran mengedit video dan desain grafis. Lincahnya jemari Mutma di atas layar berlambang ‘apel tergigit sedikit’ miliknya menjadi bahan bakar utama. Baginya, ajang Duta Wisata adalah panggung tepat menyalurkan hobinya dalam mengemas konten visual.

Pelat Luar Kaltara Disorot, Penertiban Kendaraan Masih Sebatas Imbauan

“Jadi kalau misalnya saya berpikir (untuk menyandang gelar Duta Wisata), saya jadi enak pergi buat-buat konten, seperti itu Kak,” lanjut Mutma.

Tak mau mimpinya sia-sia, Mutma menyiapkan diri. Meski terbilang singkat, persiapan Mutma terbilang efektif dan intens. Sekira tiga minggu sebelum malam puncak, ia memeras otak merancang konten destinasi lokal bertajuk ‘Keramaian Jalan Lingkar’, sekaligus melatih cara menyampaikan karyanya di panggung, di hadapan orang banyak.

Namun, pengalaman dan rasa percaya diri terus membentuknya. Remaja berdarah Bone – Nunukan ini ingat, dia pernah ikut lomba debat saat sekolah. Pengalaman itu juga yang membuat fondasi keberaniannya kuat dalam bersuara. Sedikit keahlian public speaking-nya juga berguna dalam ajang tersebut

Dan di balik keberanian itu, yang namanya panggung megah dengan ratusan pasang mata menatap tajam, rasa gugup tentu tak bisa dihindari. Malam itu dia gugup bukan main. Tangannya bergetar, nyaris tak dialiri darah. Degup jantungnya berpacu. Maklum, panggung Duta Wisata ini adalah panggung pertamanya.

“Deg-degan, Kak. Tapi seru,” akunya sambil memeragakan gerakan memegang dada dengan ekspresi kaget.

Jumat Langkah Peduli, Lurah Nunukan Timur Ajak Warga Berbagi Sembako Sambil Jalan Santai

Tak lama, rasa gemetar itu pelan-pelan mencair ketika matanya menangkap dua pasang sosok familiar di bangku penonton. Ya, itu orang tuanya dan pembinanya di sekolah. Saat giliran tampil tiba, peserta bernomor urut 02 ini tampil begitu anggun. Dia kemudian bersuara.

Kata demi kata mengalir lugas dari bibirnya. Dari kalimatnya terajut gagasan tajam tentang pariwisata Nunukan. Kalimat-kalimat yang sukses menyihir dewan juri dan membuat hadirin bertepuk tangan riuh. Di depan sana, orang tuanya juga tak melepaskan tepuk tangan.

“Orang tua,” jawabnya tanpa ragu saat ditanya siapa yang paling berpengaruh membentuk karakternya hingga saat ini.

Hal ini juga diakui oleh Dian Hartantri. Perempuan yang akrab disapa Bu Dian ini merupakan guru, sekaligus wali murid Mutma sejak pertama masuk SMA. Menurut Dian, keluarga Mutma memberikan dukungannya totalitas tanpa batas.

“Sangat suportif banget keluarganya. Kan ada orang tua yang sekadar menyerahkan ke gurunya atau cuma mengantar. Ini enggak, diantar, ditungguin, disupport semua. 24/7 (setiap hari),” puji Dian.

Lalu, malam pengumuman pemenang pun tiba. Suasana yang tegang dan penuh rasa penasaran berubah menjadi momen yang sangat emosional. Saat nama Mutma diumumkan menduduki peringkat kedua dari 14 peserta, perasaan haru, senang dan tak percaya bercampur aduk.

“Bangga. Bangga banget. Menangis. Menangis banget,” kenang Mutma menirukan ungkapan haru orang tuanya.

BUKAN HANYA DUTA WISATA, SELURUH ANAK MUDA ADALAH KOMPAS WISATA

SEBAGAI sosok pendamping, Dian Hartantri berharap, kisah perjalanan Mutma bisa menjadi pemantik semangat bagi generasi muda di Nunukan. Ia juga menekankan pentingnya memiliki motivasi dari dalam diri, baik di bidang akademik, olahraga, maupun seni.

“Mau bakat di akademik atau olahraga, silakan. Yang penting punya motivasi supaya arahnya jelas. Jangan sekadar datang ke sekolah tanpa tujuan,” ungkap Dian. “Bahkan kalau alasannya cuma ‘pengen ketemu teman’ di sekolah, pun tidak apa-apa. Karena dari bertemu teman itu banyak hal positif yang bisa didapat,” lanjutnya.

DIDUKUNG : Selain mendapatkan dukungan dari guru dan rekan sekolahnya, Mutma juga mengaku rutin mendapatkan sokongan dari orang tuanya, Amirullah dan Muliana.

Bagi Mutma sendiri, gelar juara 2 yang dia dapat di ajang Duta Wisata Nunukan bukanlah titik akhir, melainkan pintu awal perjalanan hidupnya. Ia menegaskan, promosi pariwisata di daerah perbatasan tidak boleh hanya dibebankan di pundak Duta Wisata atau Pemerintah Daerah semata.

“Tapi, marilah kita bersama-sama menjadi agen perubahan itu,” serunya mantap.

Di era digital saat ini, kata dia, setiap anak muda punya kesempatan dan ‘senjata’ berupa media sosial untuk memperkenalkan keindahan daerahnya—mulai dari destinasi tersembunyi, kuliner khas, hingga cerita budaya lokal.

“Kita tidak boleh hanya sekadar bangga terhadap potensi daerah kita, tetapi juga harus aktif mengemas dan mengembangkannya ke kancah yang lebih besar,” tutup Mutma penuh optimisme.

Dari ujung utara Kalimantan, Mutma telah membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba hal baru dapat menjadi kompas penunjuk arah menuju prestasi. Kini, giliran anak-anak muda Nunukan lainnya untuk bergerak bersama merawat dan mengenalkan pesona daerah ke mata dunia.

Melangkah terus, berkarya terus, bermanfaat terus. Bersinarlah Mutmainnah! (*)

Berita Hari Ini

Berita Populer

× Advertisement
× Advertisement