TARAKAN – Sebanyak 15 anak binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan mengikuti kegiatan Pramuka dan pendidikan kesetaraan. Tak hanya belajar disiplin, mereka juga dilibatkan dalam pelayanan kepada pengunjung lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas saat jam besuk.
Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Jufri, mengatakan pembentukan tim Pramuka ditujukan bagi warga binaan yang berusia di bawah 18 tahun. Kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih positif selama mereka menjalani masa pidana.
“Pembentukan Pramuka ini merupakan bagian dari pembinaan bagi anak-anak binaan. Kami berharap kegiatan ini dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama mereka menjalani masa pidana,” kata Jufri.
Dalam latihan yang dilaksanakan hampir setiap hari, anak-anak mempelajari dasar kedisiplinan, mulai dari baris-berbaris, tata cara memberi hormat, hingga teknik melipat bendera. Materi tersebut diberikan oleh petugas lapas bersama mantan anggota TNI dan Polri.
Menurut Jufri, kegiatan ini juga memberikan pengalaman baru yang belum tentu diperoleh anak-anak ketika berada di luar lapas.
“Pembelajaran Pramuka dilaksanakan hampir setiap hari. Pengalaman seperti ini belum tentu mereka dapatkan ketika berada di luar lapas atau saat bersekolah,” ungkapnya.
Humas Lapas Kelas IIA Tarakan Fauzan menjelaskan, tim Pramuka kembali dibentuk pada 2026 setelah cukup lama vakum. Saat ini, pihaknya masih memantapkan pelaksanaan kegiatan sebelum berkoordinasi dengan gugus Pramuka di Tarakan.
Pola latihan disesuaikan dengan kelompok usia peserta. Petugas juga menerapkan pendekatan yang berbeda dengan mempertimbangkan latar belakang kehidupan masing-masing anak.
Selain berlatih, anak-anak binaan mendapat kesempatan untuk terlibat langsung dalam pelayanan kepada pengunjung. Saat jam besuk, mereka secara bergiliran membantu lansia dan penyandang disabilitas, termasuk membawakan barang bawaan serta mengingatkan pengunjung agar menjaga barang milik mereka.
“Pada jam besuk, mereka membantu lansia dan penyandang disabilitas, termasuk mengangkat atau membawa barang bawaan serta mengingatkan barang milik para pengunjung,” ujar Fauzan.
Sebanyak 15 anak tersebut dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing beranggotakan delapan dan tujuh orang. Mereka mengenakan seragam Pramuka saat menjalankan tugas.
Di bidang pendidikan, Lapas Tarakan bekerja sama dengan Yayasan Almarhamah Tarakan untuk menyelenggarakan sekolah Paket bagi anak binaan. Kegiatan belajar berlangsung setiap Selasa, Rabu, dan Kamis dengan mendatangkan guru ke dalam lapas.
Untuk menunjang proses belajar, pihak lapas menyediakan perlengkapan berupa buku, pulpen, dan pensil. Seluruh layanan pendidikan tersebut diberikan secara gratis.
“Ada sekolah Paket yang dilaksanakan setiap Selasa, Rabu, dan Kamis melalui kerja sama dengan Yayasan Almarhamah Tarakan. Seluruhnya gratis tanpa pungutan biaya,” ungkap Fauzan.
Melalui kegiatan Pramuka dan pendidikan kesetaraan, anak-anak binaan tetap memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, melanjutkan pendidikan, dan memperoleh pengalaman sosial selama menjalani masa pidana. Bekal tersebut diharapkan dapat membantu mereka mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat. (rz)




