SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kaltara Bulungan Olahraga

Dari Warisan Leluhur ke Arena Kompetisi, Menyumpit Dayak Bertahan di Bulungan

Dari Warisan Leluhur ke Arena Kompetisi, Menyumpit Dayak Bertahan di Bulungan
LOMBA : Ketua Pemuda Adat Dayak Kenyah Tasa Agung saat mengikuti lomba menyumpit dalam Bulungan Open Turnamen Menyumpit 2026 yang digelar di Kebun Raya Bundayati, Tanjung Selor.

TANJUNG SELOR – Tradisi menyumpit masyarakat Dayak tak hanya menjadi warisan leluhur, tetapi juga dipertahankan melalui arena kompetisi. Di tengah perkembangan zaman, olahraga tradisional ini menjadi salah satu cara menjaga identitas budaya agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.

Upaya itu terlihat dalam Bulungan Open Turnamen Menyumpit 2026 yang digelar di Kebun Raya Bundayati, Tanjung Selor, pada 20–21 Oktober. Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Bulungan ke-66 dan Kota Tanjung Selor ke-236 tersebut diikuti peserta dari sejumlah wilayah di Kalimantan Utara (Kaltara) dan Kalimantan Timur (Kaltim).

Wakil Ketua DPRD Bulungan sekaligus Ketua Pemuda Adat Dayak Kenyah Tasa Agung mengatakan, menyumpit bukan sekadar perlombaan, melainkan bagian dari identitas dan sejarah masyarakat Dayak yang perlu dijaga keberlangsungannya.

“Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya membaca kata sumpit di dalam buku sejarah tanpa pernah melihat atau merasakannya sendiri. Menyumpit ini adalah denyut nadi kehidupan leluhur yang diwariskan turun-temurun,” ujarnya.

Menurut dia, turnamen tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan tradisi sekaligus mengembangkan kemampuan dalam kompetisi yang sehat. Olahraga tradisional juga diharapkan dapat berkembang tanpa kehilangan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Pelayanan Dasar Jadi Fokus 99 dari 170 Inovasi Daerah Kaltara

Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan berbagai daerah, mulai dari Samarinda, Berau, Kutai Barat, dan Kutai Timur di Kaltim, hingga Peso, Malinau, Long Pujungan, dan Kabupaten Tana Tidung di Kaltara.

Bupati Bulungan Syarwani mengatakan, menyumpit memiliki daya tarik yang dapat dikembangkan lebih luas. Karena itu, penyelenggaraan turnamen diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari perayaan hari jadi daerah, tetapi juga memperkuat pengenalan budaya Dayak kepada masyarakat di luar Kalimantan.

“Ini bukan hanya sekadar lomba piala atau hadiah, tetapi kita ingin memperlihatkan secara langsung bahwa menyumpit adalah napas masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan sejak dahulu kala,” kata Syarwani.

Dia berharap jumlah peserta terus meningkat. Pada penyelenggaraan berikutnya, Pemkab Bulungan menargetkan turnamen tersebut dapat diikuti hingga 1.000 peserta.

Selain menyumpit, rangkaian kegiatan juga mencakup lomba panahan tradisional dan kejuaraan bola voli. Berdasarkan data panitia dalam naskah penyelenggaraan, lomba menyumpit diikuti 337 peserta, terdiri atas 219 putra dan 118 putri. Panahan tradisional diikuti 84 peserta, sedangkan bola voli melibatkan 448 atlet dari 32 klub.

Ombudsman Soroti Lemahnya Sistem Pengaduan di Instansi Pemkab Bulungan

Kehadiran peserta dari luar daerah juga diharapkan memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat. Penginapan, warung makan, transportasi, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berpeluang memperoleh tambahan pelanggan selama kegiatan berlangsung.

Syarwani mengatakan, kegiatan berbasis kearifan lokal perlu dikemas secara menarik agar manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi pelestarian budaya, tetapi juga ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, Pemkab Bulungan berupaya mengenalkan budaya daerah melalui pendidikan. Bahasa Bulungan, Tidung, dan Dayak serta kesenian tradisional telah dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal di sekolah, mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah dasar (SD).

Menurut Syarwani, pengenalan budaya sejak dini penting agar generasi muda memahami identitas daerahnya dan memiliki kepedulian untuk menjaga warisan tersebut.

Melalui turnamen menyumpit, Bulungan berupaya membawa tradisi leluhur ke ruang publik yang lebih luas. Tantangannya, menjaga agar kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi bagian dari pembinaan dan pewarisan budaya kepada generasi berikutnya. (rk)

Politik Uang hingga Hoaks, Bawaslu Tarakan Mulai Petakan Kerawanan Pemilu 2029
× Advertisement
× Advertisement