Kaltara Nunukan

Antrean BBM di Sebatik Hambat Distribusi Hasil Panen, Petani Terancam Rugi

ANTRE PANJANG : Puluhan kendaraan mengantre untuk mendapatkan BBM di salah satu SPBU di Kecamatan Sebatik Tengah, Senin (27/10/2026).

NUNUKAN – Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) kembali terjadi di Sebatik, Kabupaten Nunukan, Senin (27/10/2026). Kondisi ini tidak hanya menghambat aktivitas kendaraan, tetapi juga berdampak pada petani yang kesulitan mendistribusikan hasil panen.

Sejumlah truk dan mobil pikap terlihat mengantre untuk mendapatkan BBM agar bisa kembali beroperasi. Situasi ini menjadi kendala bagi petani yang bergantung pada angkutan untuk membawa hasil kebun, seperti kelapa sawit, pisang, dan kakao, ke tempat penjualan.

Salah seorang petani di Sebatik, Mail mengungkapkan, keterbatasan BBM membuat pengangkutan hasil panen terganggu. Menurutnya, persoalan ini berulang hampir setiap bulan dan berpotensi menimbulkan kerugian bagi sebagian petani.

“Kalau truk dan pikap antre begini, hasil tani tidak bisa keluar, mana pemerintah?” ujar Mail, Senin (27/10/2026).

Ia menjelaskan, dalam sekali panen, hasil pertanian bisa mencapai 2 hingga 5 ton. Namun, ketika pengangkutan terkendala, petani berisiko kehilangan pendapatan karena hasil kebun tidak dapat segera didistribusikan.

Izin Penyitaan Terbit Enam Hari Setelah Penggeledahan, Polda Kaltara Diuji di Praperadilan

“Kalau yang tersisa cuma 2 ton, nilainya sekitar Rp5 juta. Itu perkiraan, Pak. Kejadian seperti ini sering terjadi, apalagi kalau hujan dan BBM habis, sudah pasti sebagian petani mengalami kerugian,” ungkapnya.

Mail mengatakan, persoalan BBM bukan hanya terjadi dalam hitungan beberapa hari. Menurutnya, kelangkaan dan antrean berulang hampir setiap bulan sehingga mengganggu aktivitas pertanian yang membutuhkan kelancaran angkutan.

“Kelangkaan BBM ini hampir setiap bulan terjadi. Yang hari ini terjadi di Sebatik Tengah. Tapi semua SPBU, pas datang isinya pasti cuma tiga hari habis sudah. SPBU buka cuma tiga sampai lima hari dalam sebulan. Kami petani yang paling merasakan dampaknya karena hasil kebun tidak bisa terus menunggu,” katanya.

Dampak keterbatasan BBM juga dinilai meluas ke sektor ekonomi lainnya. Ketika pengangkutan hasil pertanian terganggu, pendapatan petani ikut terancam. Di sisi lain, kenaikan biaya BBM dan angkutan dapat mendorong naiknya harga kebutuhan pokok.

“Bukan hanya sawit, pisang, dan kakao yang terkendala. Hasil tani bisa menurun, sementara harga sembako juga ikut naik karena biaya BBM dan angkutan,” ujar Mail.

Warga Minta Polisi Tidur Dibongkar, Kodaeral XIII Tarakan Masih Setengah Hati

Ia berharap pemerintah segera mencari solusi agar pasokan dan distribusi BBM di Sebatik lebih lancar. Menurutnya, ketersediaan BBM sangat menentukan keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama petani yang bergantung pada kendaraan untuk mengangkut hasil panen.

Kondisi ini menjadi perhatian karena keterlambatan distribusi dapat membuat hasil pertanian tertahan, sementara petani tetap menanggung biaya produksi dan kebutuhan hidup. Kelancaran pasokan BBM pun menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan.

Sementara itu, Plt. Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Nunukan Beny Patisadian mengungkapkan, pihaknya telah menyampaikan permintaan penambahan kuota BBM kepada PT Pertamina Patra Niaga Tarakan.

“Coba konfirmasi ke pihak Pt.Pertamina. Karena Pemda sudah mengusulkan permintaan kenaikan kuota BBM, baik Jenis BBM Tertentu (JBT) maupun Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) seperti pertalite ron 90. belum termasuk subsidi,” ujarnya.

Terkait penambahan kuota, Sales Branch Manager PT Pertamina Patra Niaga, Nabilla Inan membenarkan Pemkab Nunukan melalui surat Bupati telah mengajukan permintaan tambahan kuota BBM. Usulan tersebut sudah diterima Pertamina dan kini dikoordinasikan dengan BPH Migas.

Harga Cabai Rawit Tembus Rp150 Ribu per Kilogram

“Saat ini kami sedang berkoordinasi dengan BPH Migas untuk mengusahakan usulan penambahan tersebut sehingga kebutuhan masyarakat di Kaltara, khususnya Sebatik, dapat tercukupi sampai akhir tahun,” ujarnya.

Nabilla Inan menjelaskan, saat ini terdapat lima SPBU yang melayani penyaluran Biosolar di Sebatik. Dua di antaranya merupakan SPBB yang berfokus melayani konsumen nonkendaraan, sedangkan tiga lainnya melayani konsumen kendaraan maupun nonkendaraan.

Untuk menjaga ketersediaan stok, penyaluran Biosolar pada tiga SPBU tersebut dibagi berdasarkan periode awal, tengah, dan akhir bulan. Pengaturan ini dilakukan agar stok tidak habis secara bersamaan sehingga SPBU dapat saling membantu.

“Hal ini dilakukan agar SPBU tidak habis secara bersamaan sehingga bisa saling backup satu sama lainnya,” jelas Nabilla.

Ia mengatakan, pengiriman BBM ke Sebatik menggunakan kapal sehingga harus dilakukan dalam jumlah besar untuk memenuhi kapasitas angkut. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengaturan jadwal distribusi ke SPBU. (ryn)

× Advertisement
× Advertisement