SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KALTARA BULUNGAN EKONOMI

Cabai Rawit Mengerek Inflasi Kaltara, Ketergantungan Pasokan Jadi Titik Lemah

DIBURU : Aktivitas di Pasar Induk Tanjung Selor tetap ramai. Cabai rawit masih diburu pembeli meski harganya sedang tinggi.

TANJUNG SELOR — Harga cabai rawit kembali menjadi sumber tekanan inflasi Kalimantan Utara (Kaltara). Pada September 2026, komoditas ini menyumbang 0,30 persen terhadap inflasi bulanan Kaltara yang tercatat 0,37 persen.

Besarnya andil tersebut memperlihatkan betapa sensitifnya harga pangan di Kaltara terhadap gangguan pasokan dari luar daerah. Ketika produksi di wilayah pemasok terganggu, gejolaknya langsung terasa hingga pasar Kaltara.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltara Agus Taufik mengatakan, ketergantungan terhadap pasokan luar daerah menjadi salah satu kerentanan dalam menjaga stabilitas harga pangan.

“Komoditas pangan yang bergantung pada pasokan dari luar daerah memiliki kerentanan terhadap perubahan produksi maupun kondisi cuaca. Karena itu, penguatan pasokan menjadi bagian penting dalam pengendalian inflasi,” ujar Agus.

Kenaikan harga cabai rawit terutama dipengaruhi tersendatnya pasokan dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Kedua wilayah tersebut selama ini menjadi salah satu sumber pasokan cabai bagi Kaltara.

Dibatalkan Sejak 2020, PT NJL Kembali Ajukan HGU Baru?

Gangguan produksi terjadi akibat kekeringan dan kemarau berkepanjangan yang menekan produktivitas petani. Kondisi tersebut kemudian mempersempit pasokan dan mendorong harga cabai rawit di pasar Kaltara.

Tekanan harga juga terjadi pada komoditas pangan hewani. Telur ayam ras dan daging ayam ras ikut mengalami kenaikan seiring meningkatnya harga di tingkat distributor.

Kaltara juga masih bergantung pada pasokan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan kedua komoditas tersebut, antara lain dari Sulawesi dan Berau.

Situasi ini menunjukkan persoalan inflasi pangan di Kaltara tidak hanya berkaitan dengan harga di tingkat konsumen. Rantai pasok dari daerah produksi hingga pasar menjadi salah satu titik rawan yang menentukan stabilitas harga.

Di tengah tekanan tersebut, produksi petani lokal justru memberikan penahan. Sejumlah komoditas sayuran seperti sawi hijau, bayam, dan kacang panjang mengalami penurunan harga karena pasokan meningkat.

Jalan Krayan–Malinau Ditarget 2028, Janji Lama Kembali Diuji

Sebagian petani lokal Kaltara memasuki masa panen raya. Melimpahnya produksi membuat harga sejumlah sayuran turun dan memberikan andil terhadap deflasi.

Kondisi itu sekaligus memperlihatkan pentingnya memperkuat produksi pangan lokal. Ketika pasokan dari luar daerah terganggu, komoditas yang diproduksi petani Kaltara dapat menjadi penyangga kebutuhan pasar sekaligus meredam tekanan harga. (rk)

× Advertisement
× Advertisement